Oleh: Reisa Silviana
Hidup sendirian itu nyatanya tidak mudah,
terlebih jika tempat tinggalmu jauh dari keluarga. Yeah, setidaknya masih ada ‘tetangga’.
Kini, jarakku dengan keluargaku terpaut sekitar
delapan jam perjalanan menggunakan transportasi darat. Padahal keluarga adalah
aspek yang sangat penting bagiku. Karena sedari kecil, aku hidup di tengah-tengah
mereka. Namun sekarang, aku harus sanggup untuk jauh dari mereka.
Alasannya klise, aku laki-laki dewasa yang
agak manja. Ibaratnya hal ini adalah sebuah karantina bagiku.
Disinilah aku berada sekarang, di sebuah
rumah minimalis yang cukup nyaman. Udara di lingkungan ini sangat sejuk.
Pepohonan tumbuh di tepi jalan aspal yang masih mulus. Namun sayangnya,
rumah-rumah disini saling berjauhan.
Rumah yang paling dekat denganku adalah
rumah bercat ungu yang terpaut empat meter dari rumahku. Jendela kamar rumah
itu bahkan berhadapan langsung dengan jendela kamarku. Penghuninya adalah
sepasang suami istri dan anak lelakinya.
Tidak ada yang salah dengan keluarga itu.
Tuan dan Nyonya Indrawi sangat ramah padaku. Namun anak lelaki mereka yang sebaya
dengan adikku, empat belas tahun, cukup misterius bagiku. Kalau tak salah,
namanya Danik. Aku tak pernah berbicara sepatah katapun dengannya. Bahkan saat
aku mencoba menyapanya, dia langsung melenggang pergi. Benar-benar tidak sopan!
Aku rasa hobinya adalah memandang tanah,
aspal, kerikil dan apapun yang berada di bawah alas kakinya. Setiap kali aku
mendapatinya berangkat ataupun pulang sekolah, dia hanya menunduk. Mungkin dia
terlalu menghayati ghodulbashor.
Keanehan tersebut masih berlanjut. Saat
malam hari, sebelum aku menutup gorden kamarku, aku sering mendapatinya seperti
tengah memperhatikanku dari balik jendela kamarnya yang tepat berseberangan
dengan jendela kamarku. Aku tak ambil pusing dan langsung menutup gorden,
samar-samar aku melihat telunjuknya mengarah padaku. Hal itu berlangsung sejak
tiga hari yang lalu.
Lupakan saja, toh itu bukan masalah bagiku.
Aku saja kini tengah disibukkan dengan skripsi, deadline majalah dan cinta–eh.
Bahkan sekarang, tepatnya jam sepuluh
malam, aku belum beranjak dari depan meja belajarku. Tanganku masih setia
berkutat dengan laptop. Sudah terhitung empat kali aku mencari referensi dari
Google, serta tiga kali dari buku Psikologis yang kupinjam dari perpustakaan
kota. Teman-temanku menyarankanku untuk menulis artikel tentang ‘Multiple Personality
Disorder’. Yeah, setelah
menyelesaikan skripsi, aku langsung mengerjakan artikel. Sekedar info saja, aku
memperoleh uang tambahan dari pekerjaan ini.
Tak terasa aku sudah menyelesaikan
artikelnya, aku menutup buku dan mematikan laptop, memandang keadaan kamarku
yang amat rapi. Aku tak pernah membiarkan satupun barang tergeletak di lantai.
Lantas, aku beranjak pergi ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan mencuci
kaki. Aku membuka kenop pintu kamar mandi dan masuk ke sana.
Setelah beberapa menit, aku keluar dari
kamar mandi dan mengelap wajah dan tanganku dengan handuk kecil yang tergantung
di kenop pintu kamar mandi. Tak lupa aku mematikan lampu kamar.
Oh, satu hal lagi! Aku lupa menutup
gorden! Semoga tetanggaku yang masih labil itu sudah tidur. Namun dugaanku
salah, dia tampak memperhatikanku sembari menggenggam erat gorden kamarnya yang
terbuka. Matanya tampak nyalang dengan tatapan mata yang tak fokus. Secara
tiba-tiba ia mengarahkan cahaya senter padaku.
Aku terlonjak dan sedikit memundurkan
tubuhku. Aku hampir terjatuh karena tersandung sepatu. Aku belum sempat menutup
gorden. Danik mengepalkan tangannya dan meninju kaca jendelanya agak keras.
Tatapannya semakin mengerikan. Aku tak bisa menebak ekspresinya.
Bulu kudukku meremang saat melihatnya
mengacungkan sebuah cutter ke arahku dengan tangan kirinya, mungkin dia akan
melakukan debus. Sementara tangan kanannya yang masih menggenggam senter, mengetuk-ngetuk
kaca jendela. Mungkin dia pikir senter adalah barang murahan.
Aku seperti mendengar irama yang
berbeda-beda namun teratur dari ketukan tersebut. Mungkin aku sudah gila, itu
bukan puisi...
Cepat,
lambat, lambat, lambat, lambat.
Cepat,
lambat, lambat, lambat, lambat.
Lambat,
lambat, lambat, lambat, lambat.
Entah kenapa aku tiba-tiba teringat pada warna
cokelat.
Akupun sadar bahwa seharusnya aku bertanya
tentang Danik pada orang tuanya.
Kedua netraku memandang Danik sendu.

Belum ada tanggapan untuk "Cerpen Riddle "Neighbor""
Posting Komentar